Greenious-Hurray

Gak da yang lebih menyenangkan selain mencurahkan ide dalam bentuk tulisan, dan orang-orang membaca dan mengerti tulisan itu. He..he..

Jam Dinding

Sunday, March 27, 2011

BROTHERHOOD as BROTHERBLOOD (Prolog)

Diposkan oleh Reesh-Ma

“hei nggak usah resek ya! Ini selimut bagianku” anak laki-laki itu menarik selimut yang dipegangnya
“enak aja! Bagian kamu udah kebanyakan. Yang ini bagianku!” balas anak laki-laki didepannya yang seumuran dengan anak laki-laki yang pertama
“gak bisa! Kamu yang narik-narik selimutku kok”
“o… gak bisa!”
‘CKLEK’ pintu kamar terbuka. Kedua anak laki-laki seumuran SD itu berhenti bertengkar. Seorang wanita dewasa masuk dengan terburu-buru dan muka keheranan, kemudian dibelakangnya masuk juga seorang pria dewasa . Tapi sikap laki-laki dewasa itu lebih tenang dibanding istrinya.
“apaan sih?” ini sudah malam, kalian bukannya tidur tapi teru…us berantem! Kalian itu kenapa?” wanita itu marah-marah
“dia nih ma, dia narik-narik selimut aku!”
“ya jelas aku tarik, itu emang bagianku kok” bantah anak laki-laki satunya
“alah alasan, bilang aja klo kamu mau selimutan sendirian” tuduh anak laki-laki yang pertama
“nggak!”
“iya!” balas yang satunya
“DIAAA…AM! Ardhan… Idhan diam!” mamanya berteriak keras membuat kedua anak itu diam dengan sedikit ketakutan, sementara suaminya Cuma geleng-geleng kepala
“dia nih ma…!”
“kamu tuh!”
“udah diam! Pusing mama dengernya” wanita itu mengacak-acak rambutnya sendiri “sekarang gimana caranya kalian nggak berantem lagi?”
“Idhan gak mau selimutan sama dia”
“kayak aku mau ajah!” balasnya sinis
“udah!” bentak mamanya lagi lalu berjalan kesebuah lemari dan mengeluarkan 1 selimut lagi “ini! Sudah kan? Mama mau kalian sekarang tidur dan nggak ribut lagi”
Ardhan mengambil selimut dari tangan mamanya lalu membaringkan tubuhnya dikasur dikuti anak yang satunya dengan muka manyun. Begitu dirasa kedua anak itu diam, kedua orang tua mereka keluar kamar.
Tapi nggak segampang itu mereka bisa berdamai. Soal selimut mungkin udah selesai, tetep ada aja masalah yang bakal jadi bahan pertengkaran mereka. Walau Cuma secuil kulit jempol kaki mereka yang bersentuhan tapi jelas berbuntut panjang.
“heh kaki kamu tuh bisa geseran dikit gak sih?” Ardhan mendorong kaki Idhan dari kakinya
“du…uh kamu jangan mulai gara-gara ya!”
“kaki kamu jauhan dong”
“eh resek banget sih!” Idhan berdiri diatas kasur dengan mengacak pinggang “kamu bisa diem gak sih? Ngantuk nih!”
“kakimu tuh yang resek. Tadi selimut sekarang kasur, mau kamu apa sih?” Ardhan ikut-ikutan berdiri
“kenapa sih? Cuma kesenggol doang kan?”
“tapi aku gak suka, ganggu tau!”
“nyebelin banget sih!” tuduh Idhan
“kamu dulu kan!” bales Ardhan
“ARDHAN…IDHAN!” tiba-tiba wanita yang tadi menyeruak masuk dan berteriak kencang “apa lagi sih? Nggak pagi, nggak malem ribut terus! Sekarang apa lagi?”
“bisa gak sih ma kita nggak tidur sekamar?” tanya Ardhan sebel
Mamanya bernafas ngos-ngosan mendengar permintaan anaknya. Selain suka ribut, kedua anak itu memang maunya macem-macem. Bikin pusing orang tua!
“nggak!”
“tapi ma…!” pinta Idhan
“pokoknya…”
“bisa!” tiba-tiba terdengar suara laki-laki bicara memotong kata-kata wanita itu
“tuh kan papa bilang bisa” dukung Ardhan pada papanya
“tapi siapa yang mau pindah?” lanjut papanya
Ardhan dan Idhan mengangkat tangannya cepat-cepat, tapi Ardhan buru-buru menarik tangannya lagi begitu tahu klo Idhan ikut mengacungkan tangan.
“bagus, yang mengacungkan tangan siap-siap keluar kamar dan pindah ke teras depan” kata papanya tegas
Ardhan tersenyum mengejek dan Idhan keheranan.
“kok…?” gumam Idhan
“kalian nggak akan terganggu lagi dan nggak akan ngerasa kesepian karena banyak nyamuk yang bersedia menemani kalian. Gimana?”
Idhan menarik lagi tangannya pelan-pelan.
“ini berlaku seterusnya! Ayo!” ajak papanya
“e… enggak deh pa! disini aja” kata Idhan pelan
“bagus klo kalian ngerti, klo ada yang berantem lagi silakan dengan sukarela pindah ke teras”
“i… iya pa!” jawab Ardhan dan Idhan bersamaan
“ya udah cepet tidur!” perintah mamanya
Ardhan dan Idhan menarik lagi selimut mereka masing-masing dan berbaring tidur. Klo papanya yang tegas itu sudah bicara mereka pasti diam, karena papanya nggak seperti mamanya yang mudah terbawa suasana. Papanya lebih dingin dan tegas membuat Ardhan dan Idhan takut untuk melawan.
Yah itulah kelakuan Ardhan dan Idhan yang selalu bikin pusing mamanya. Mereka nggak bandel tapi mereka nggak pernah bisa akrab satu sama lain. Sekecil apapun masalahnya akan berbuntut panjang klo terjadi diantara mereka. Tapi sebenci apapun mereka nggak kan bisa menghapus kenyataan klo mereka itu KEMBAR IDENTIK dari sel telur yang sama.
....

Thursday, March 24, 2011

Malaikat Tanpa Sayap

Diposkan oleh Reesh-Ma

Ketika aku dalam keadaan terdesak, aku berharap akan datang malaaikat penolong.
Hingga keadaan itu terulang berulang kali hingga menjamur sebagai perasaan sakit, dendam yang teramat sangat, malaikat itu tetap hanya angan...
Bukan... Dia hanya belum waktunya datang!
Walaupun terlambat, tapi akhirnya aku temukan dia...
Malaikat yang akan siap melindungiku.
Tapi pada akhirnya, malaikat itu hanya seorang manusia biasa.
Aku tak tahu...
Benarkah dia manusia yang terlahir dengan sosok malaikat yang selama ini kubayangkan
atau malaikat yang dikutuk langit karena berusaha menggenggam tanganku?
Seperti bidadari ke-7 yang menikah dengan pria desa pencuri selendanganya, akankah malaikatku kehilangan kekuatannya??
Dan menjadi makhluk sama rendahnya seperti aku?
aku ingin kau tetap jadi malaikat meski tanpa sayap...
aku tak berharap terbang tinggi...
Hanya sekedar menggenggam tanganmu sampai aku terlelap..
Tapi takdirmu sebagai malaikat, akankah kulepas dirimu terbang?