Dion memacu motornya melebihi kecepatan normal dia biasa mengemudi. Jalan raya yang macet karena bersamaan dengan jam pulang kerja diterobosnya dengan berani. Dion membawa motor bebeknya ini menyusuri jalan A. Yani menuju rumahnya. Sekali-kali motor Dion meliuk-liuk meotong jalan mobil-mobil yang turut melintas. Target Dion, secepat mungkin dia harus sampai dirumah dan duduk di depan komputernya.
Semua ini bukan karena jadwal Dion untuk nge-game online, bukan juga rasa Be-Te alias Boker Time yang udah kepentok deadline. Tapi karena otak Dion mendadak terpenuhi inspirasi untuk cerper-cerpen terbarunya. Sebagai seorang penulis cerpen freeland yang bermimpi menjadi Khalil Gibran versi taon 2009, inspirasi sekecil apapun nggak boleh disia-siakan. Apalagi Dion punya sifat pikun, jadi inspirasi-inspirasi yang kebetulan lewat bisa gampang menguap. Makannya Dion buru-buru pulang. Dia nggak mau ide cemerlangnya kali ini hilang gitu aja.
Dion melihat jarum indikator bensin motornya, udah nyampe garis merah. Saatnya masuk pom bensis. Tapi Dion lewat gitu aja didepan pom. Masih mending Dion nggak isi bensin karena inspirasinya. Dulu Dion pernah mendadak berhenti boker hanya gara-gara idenya datang tiba-tiba. Dasar sableng!
Motor Dion berhenti tepat didepan rumah. Dion langsung parkir ala kadarnya dan buru-buru masuk rumah. Saat melewati Mbak Ning pembantunya, Dion sempat berbalik.
“mbak klo ada yang telpon atau datang nyari-nyari aku, bilang aku lagi di Timur Tengah ikut misi perdamaian Israel – Palestina. Ok? Klo dia bilang penting banget, suruh bikin janji dulu. Ntar dihubungi lagi 1 X 24 jam” cerocos Dion
Mbak Ning yang lagi asik nyapu sambil joget-joget India cuma bisa manggut-manggut kaget. Secara juragannya ngomong udah kayak kereta patas lewat. Cepet banget! Belom sempet Mabak Ning ngasih jawaban, Dion udah melesat hilang ke kamarnya.
BLAM... CKLEK...
Pintu kamar dituutp dan dikuci dari dalam. Dion menyalakan komputer kesayangannya dan bersiap-siap mengetik sambil menunggu proses booting.
1 menit, monitor masih gelap cuma terdengar suara blower berputar.
2 menit, muncul wallpaper Dion lagi nyengir mirip kuda dan mulai ada opening soundnya.
3 menit, icon-icon muncul satu persatu.
Klik... klik...
Dion memencet icon office word 2003, lama banget loading komputernya bikin Dion jengah.
Klik... klik...
Dion memencet icon office word lagi. Masih belum ada reaksi.
Klik... klik... klik... klik...
Dion memencet icon itu berkali-kali sesukanya dan tidak ada reaksi apapun.
BUGH... BUGH...
Saking kesalnya, Dion menepuk monitor dan CPU-nya gantian “woi... woi... ini komputer kenapa sih?” Dion terus-terusan memukul monitor tak berdosa itu, belom puas memukul-mukul Dion kini ganti memenceti tombol enter di keyboardnya.
BUGH... BUGH... klik... klik... TEK... TEK... TEK... BUGH... BUGH... TEK... BUGH.... BUGH... TEK... klik...klik...
Dion memukul, memencet, meng-klik gantian samapi menimbulkan irama yang asik banget buat joget India favorit Mbak Ning.
WUUUZZZZ....
Tangan Dion mendadak berhenti begitu layar komputernya mati.
“lho... lho... kok mati?” Dion memeriksa tombol-tombol komputernya berharap tuh komputer nyala lagi “wah apess! Mati lampu lagi! Kompie... kamu bertahan ya! Jangan rusak dulu!” Dion gantian mengelus-elus monitornya.
“Mbak Ning... mati lampu ya? Benerin sekringnya dong!” teriak Dion dari dalam kamar.
Bukan listrik yang menyala justru Mabak Ning tiba-tiba mengetuk pintu kamar Dion buru-buru “Mas... mas...!” panggil Mbak Ning
“ada apa sih? Kan aku suruh benerin sekringnya, kok malah kesini? Atau jangan-jangan duit listrik bulan ini kamu embat ya? Makannya listriknya diputus PLN?” tanya Dion sebal
“anu mas... listriknya lagi pemadaman. Kemaren pak RT bilang hari ini komplek kita kena giliran pemadaman sampai jam 7 malam. Saya tadi lupa bilang!”
“HA?? jam 7?” Dion garuk-garuk kepala “ah ide aku udah keburu ilang! Ya udah... mbak balik aja kesana”
Dion kembali lagi duduk didepan komputernya. Kali ini bukan untuk mengetik ide dalam otaknya. Tapi memikirkan bagaimana caranya ide ini bisa ditulis sebelum hilang. Dion melihat sekelilingnya, senyum Dion mendadak melebar. Tak ada rotan akarpun jadi, tak ada kopi teh juga bisa, tak ada jengkol pete pun oke. Alah..! singkatnya meski kompie gak bisa nyala tapi Dion bisa mengeluarkan idenya secara manual alias ditulis tangan.
Iseng-iseng Dion masuk ke kamar adeknya, Dian, yang masih sekolah. Pasti banyak buku tulis kosong yang bisa dipake. Buku sudah siap, tinggal bolpennya. Sekalian aja Dion ngacak-acak meja belajar adeknya, mumpung empunya lagi nggak ada. Klo Dian sampe tau, bisa-bisa suaranya melengking tajam melihat kakaknya jadi pencuri. Tapi entah sial atau gimana, itu bolpen raib dari peradaban. Dari ujung timur sampai ujung barat, itu bulpen, pensil dkk gak keliatan batang tutupnya.
Dion mencoba mencari dikamarnya sendiri. Disini sih sudah pasti nggak ada, udah seminggu dia libur kuliah tapi semua alat tulisnya sudah musnah, hilang, raib, pergi entah kemana.
“adooh mau nulis aja susah amat! Dirumah ini orang-orangnya gak modal banget sih. Pulpen aja gak punya!” gerutu Dion
Demi menjaga inspirasi diotaknya, Dion terpaksa harus beli pulpen dulu. Secepat kilat Dion berlari meuju motor dan bersiap-siap pergi.
JGREKK... JGREKK... JGREKK...
Berkali-kali di starter, tapi itu motor belom juga menyala.
“apaan lagi sih?” Dion turun dan memeriksa motornya “ya ampun... tadi kan aku belum isi bensin!” Dion memukul jidatnya “abis dah bensinnya, mana buru-buru lagi!”
“MBAAK NING!!” teriak Dion memanggil Mbak Ning
Mbak Ning datang lagi sambil tergopoh-gopoh. Juragannya yang satu ini seneng banget sih manggil-manggil dia seenaknya. “ada apa lagi toh mas?”
“kamu tolong beliin aku pulpen dong!”
“yah... em maaf mas! Lagi tanggung nih, kerjaan di rumah banyak. Lagian kan ada motor, mas bisa naek motor, tuk... tuk... tuk... nyampe deh!”
“motor aku mogok! Kamu aja yang beli pulpennya”
“kan ada sepeda ungklik mas! Itung-itung olahraga gitu!”
“aah... capek! Cepetan dong! Butuh banget nih pulpennya” perintah Dion gemas
“trus kerjaan rumah gimana? Atau gini aja, saya beli pulpennya tapi mas yang ngerjain kerjaan saya, nyuci piring, nyapu, ngepel, jemur baju...”
“eh sialan! Sebenernya yang jadi najikan kamu atau aku? Enak benget nyuruh-nyuruh majikan!” Dion berubah sewot
“lha kan mas tadi maunya begitu!”
“alah... bilnga aja kamu mau ketemu si Parto satpam komplek. Jangan dikira aku gak tau ya kamu suka nangkring disitu”
“nangkring? Emang ayam?”
“udah-udah aku beli sendiri ajah. Dasar pembantu sableng!”
Dion menyambar sepeda onthel yang ada didekat situ dan mengayuhnya ke toko buku terdekat. Sepanjang perjalanan Dion berusaha menyusun ulang ide di otaknya yang masih acak-acakkan.
“ntar judul cerpennya Dongeng Ibu. Ceritanya si Ibu sering banget mendongen pada putri kecilnya. Si ibu mendongeng tentang indahnya kejujuran, tantang hebatnya cinta yang menghapus kutukan dan kisah-kisah terpuji lainnya. Tapi seiring berlalunya waktu, putri kecil itu merasa si Ibu mengkhianati dongeng-dongeng yang pernah dicerutakannya” Dion mengoceh pada diri sendiri.
Saking asyiknya menkhayal, tau-tau Dion udah sampai di toko tujuannya
“selamat siang mas! Ada yang bisa dibantu?” sapa salah satu mas-mas penjaga toko ramah
“mas beli pulpennya dong!”
“merk-nya?”
“pilot”
“em... kebetulan pulpen pilot lagi kosong mas!”
“standard deh!”
“itu juga kosong mas!” mas-mas itu tersenyum lebar
“faster ada gak?”
“Mas-mas itu berfikir sebentar “ada, warnanya?”
“item aja!”
“wah tadi baru dicek, dan tinta hitamnya kering semua”
“biru... biru...” Dion mulai kesal dengan jawaban masnya yang ngasal
“baru aja order ke pabriknya!”
“yang merah?” nada Dion meninggi
“wah gak berani jual mas! Kata ibu guru, tinta merah itu nggak sopan!”
“hhrrrh...!” geram Dion marah “niat buka toko gak sih? Perasaan pulpen aja gak ada semua!” maki Dion
“sabar mas... sabar!” mas-mas itu tetap tersenyum tanpa dosa “ada 1 merk pulpen baru. Baru launching hari ini, langsung dari pabriknya. Kualitasnya oke, mas kayaknya cocok jadi konsumen pertama. Gimana?” promosinya
“iya deh... iya deh... butuh banget ini!”
Mas-mas itu mengeluarkan 1 pulpen dari dalam etalase. Pulpen yang dipromosikan mas-nya terbuat dari plestik bening yang tintanya bisa terliahat dari luar dan bisa diisi ulang.
“berapa nih?”
“20 ribu!”
“busyett!” mata Dion melebar “gak salah? Situ mau jualan atau ngerampok? Eh buat pulpen beginian, 5 ribu perak juga aku gak rela! Pilt aja 1000 perak tahan berbulan-bulan klo gak ilang” omel Dion
“trus gimana? Jadi gak nih mas?”
“ogah! Aku cari alat tulis yang murah meriah, yang penting bisa buat nulis”
“em... klo ini gimana?” mas itu mengeluarkan sebatang pensil 2B
“berapa nih? Awas klo ngaco!”
“1500 mas!”
“gitu kek dari tadi! Nih!” Dion memberikan selembar uang seribuan dan 1 koin 500-an. Setelah itu Dion buru-buru menuju sepedanya mau pulang.
“mas-mas! Nggak sekalian rautannya?” panggil mas penjual itu
“nggak perlu! Biar saya gigiti pake gigi supaya lancip”
Dion mengayuh sepeda onthel-nya dengan speed 9. Dia kepingin segera sampai dirumah dan melanjutkan acara menulisnya. Sekarang persiapannya sudah lengkap, buku ada, pulpen juga. Udah nggak ada alasan lagi untuk menghalangi tulisannya.
“Mbak Ning, klo ada yang nyari, bilang aku ikut tim SAR nyari 7 pendaki yang hilang di Sukabumi ya...” Dion langsung melesat menuju kamar.
Buku tulis sudah diatas meja, pensil juga sudah dalam genggaman. Saatnya mulai menulis!!
Suatu hari seorang ibu sedang mendongeng untuk anak perempuannya sebelum beranjak tidur...
SREETT... SRETT... SREEETT... Dion mencorat-coret tulisa pertamanya dan menulis lagi.
Ketika malam tiba adalah saat bagi sang ibu untuk menbacakan cerita bagi putri kecilnya...
SREETT... SREETT... SRETT
“HWAAA... inspirasiku hilang!!” jerit Dion histeris.
- Reesh-Ma
- Banyak orang komentar tentang siapa saya, bagaimana, dan kenapa saya. Tapi saya yakin hanya ada 1 penjelasan rasional tentang semua itu. Tergantung bagaimana semua orang menginterpretasi diri saya. Yang jelas, siapa saya, bagaimana dan kenapa, adalah saya yang mengetahui semuanya.
-
-
JANJI12 years ago
-
Sahabat Sejati14 years ago
-
-
About Me
Greeting For me!!!
Kunjungi juga Ney...
Jam Dinding
Wednesday, February 18, 2009
Monday, January 19, 2009
Pertama kalinya aku berada disini, aku masih belum bisa mengerti apa-apa. Jangankan mengerti, melihat dengan benar-benar jelas masih harus menerka-nerka. Semuanya seakan seperti angin yang jelas-jelas dirasakan tanpa mampu untuk direalisasikan menjadi sesuatu yang nyata.
Aku ini gadis yang masih polos, tak ada satupun yang terlihat mencolok padaku. Meski secara fisik aku ini gadis SMA, tapi tetap saja aku masih belum benar-benar merasakan dunia SMA. Dunia dimana semua orang termasuk temanku bilang dunia paling asyik. Itulah yang selalu mereka elu-elukan tapi entah dimana asyiknya? Bagiku selama ini semua biasa saja, bahkan hingga 1 tahun aku di SMA aku belum menemukan dimana istimewanya.
“halo ngapain?” Seorang cowok datang dan menepuk bahuku
“Cuma ngelamun!”
“o… ngelamunin gua ya? Elu kangen gua?”
Aku Cuma tersenyum pelan, terpaksa meski sebenarnya aku nggak benar-benar ingin merespon kata-katanya. Cuma sekedar kamuflase daripada dia mengadu dan akibatnya aku harus mendengarkan ocehan teman-temanku mengenai segala tata cara dalam berpacaran. Segala tetek bengek yang bahkan aku sendiri nggak ngerti apa yang semua orang inginkan dalam berpacaran?
Cowok ini pacar pertamaku. Entah bagiku ini pacaran atau bukan karena memang sebenarnya perasaanku tidak pernah terpaut padanya. Semua ini karena teman-temanku, mereka yang mengenalkan aku padanya, mereka yang mengatakan dia menyukaiku dan mereka yang menjodohkan aku dengannya.
Entah sejak kapan hubungan ini dimulai. Tiba-tiba saja dia rutin datang kerumah saat hari sabtu, cara bicaranya seolah-olah dia selalu memanjakan aku. Diapun sering mengirimi sms-sms berisikan perasaannya padaku. Tapi bagiku semua itu biasa.
“kenapa Diam? Ada masalah? cerita dong, mungkin gua bisa bantuin elo!”
Aku menatap wajahnya. Aku berfikir sadarkah ia bahwa masalah sebenarnya justru ada pada perasaannya yang menyukaiku?
“sakit?”
Aku diam.
“laper?”
“aku mau pulang!”
“gua anter yach?”
“nggak aku pulang sendiri!”
”nggak, gua anter sampe rumah, klo dijalan ada apa-apa gimana?”
“aku mau ke warnet”
“tetep gua anter, gua ikut elo ke warnet”
“aku lama mungkin 3 jam”
“gua tungguin, sampe subuh bakal gua tunggu”
“ntar kamu dicariin”
“gue udah biasa pulang sore”
“aku gak mau ngerepotin kamu”
“gue gak ngerasa kerepotan dengan semua hal buat elo”
“aku pingin sendiri”
“kenapa harus sendiri? Klo elo punya masalah cerita ke gue!”
Nada bicaranya meninggi sedikit, aku merasakan akan datang adanya pertengkaran antar aku dan cowokku yang kemudian berahir dengan omelan-omelan temen-temenku.
“ceritanya aku jenuh. Kamu selalu ikut campur urusanku. Selalu ingin tahu ini – itu kamu…”
“gua ini pacar elu kan? Wajar donk gue ingin tahu semua tentang pacar gu...”
“bagiku enggak! Klo ini hubungan pacaran yang kamu mau, aku berhenti”
“maksud elo, kita putus?
Aku diam. Putus?! Apa hebatnya kata putus itu? Banyak gadis takut putus dengan pacarnya. Apa yang mereka takutkan? klo memang tak ada lagi perasaan dari salah satu pihak, untuk apa bertahan? Semuanya Cuma bakal melahirkan kebohongan-kebohongan baru yang bakal menyakiti pihak yang satunya kelak.
Setidaknya itu yang ingin kukatakan sekarang. Tidak, seharusnya sudah dari dulu kukatakan tidak. Sejak dia mulai mengenalku, harusnya saat itu aku bisa tegas bahwa dia bukan orang istimewa buatku. Sebelum semuanya jadi terlalu rumit seperti ini, Bukankah lebih baik menyakiti diawal cerita?
Tapi ternyata sama saja, aku ini sama penakutnya dengan cewek-cewek yang takut dengan kata putus. Hanya aku bukan takut diputus, justru aku mengharapkan dia memutuskanku secepatnya. Itulah! Bukan hanya kali ini aku diambang putus dengan cowokku, sudah berkali-kali malah. Tapi hasilnya sama saja, aku tetap harus berbaikan dengannya hanya demi temanku.
Entah kenapa aku harus takut dengan mereka? Tidak ada yang bersaing denganku untuk cowokku. Mereka bilang aku ini kekanak-kanakan. Tapi coba lihat! Apa aku dewasa membiarkan diriku pasrah dalam hubungan yang nggak jelas juntrungnya? Tetap saja aku ini gadis yang polos, mungkin itulah yang membuatku nggak ngerti jalan pikiran mereka. Katanya aku ini kolot!
Pacaran itu itu harus saling mengerti dan memahami, itu Bull Shit! Klo memang itu tujuannya apa harus dibayar dengan kebebasan dan perasaan seseorang? Bagiku tidak! Aku sudah bosan takut, sudah bosan putus asa, itu yang dikatakan seorang sastrawan. Dan aku harus bisa lepas dari masalahku klo perlu dengan caraku sendiri.
“Ya, seperti katamu. Kita putus!”
“tapi gue sayang elu”
“sayang? Tidak sadarkah kamu perasaanmu membatasiku? Kamu buat aku terus-terusan mengalah dengan keputusan teman-temanku tanpa kamu ataupun mereka tau gimana perasaanku”
“klo gitu katakan tentang perasaan elu”
“aku ingin semua masalah ini selesai tanpa harus ada hubungannya dengan temen-temenku”
Dia diam, Sepertinya dia mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menyanggah kata-kataku.
“aku ini kekanakan, menurutku kamu justru lebih kekanakan. Aku nggak ngerti dimana istimewanya duniaku, dan mereka bilang pacaran adalah salah satu istimewanya. Tanpa mereka biarkan aku memilih siapa dan apa yang kurasakan, mereka memaksaku bersamamu. Dan ternyata kamu Cuma cowok yang bersembunyi dibalik punggung temenku untuk bersamaku”
“lalu elo…”
“sori, aku nggak bisa berhubungan dengan cowok yang sama sekali nggak memiliki perasaanku”
“ta…”
“satu hal lagi. Aku nggak peduli jika akhirnya kamu nagdu pada temenku. Untuk kali ini aku sudah valid”
Aku berjalan pergi. Dalam pikiranku Cuma ada kata-kata omelan temen-temenku nanti. Bahwa aku kekanakan tanpa mau memberikan kesempatan untuk berubah. Justru karena kekanakanku itulah yang membuatku ingin lepas dari kisah seperti ini. Biarlah aku memiliki hubungan dengan cowok yang mampu menerima bahwa aku ini masih terlalu polos.
