Yang Q tau hidup gak melulu tentang cinta. Yang Q tau hidup bukan hanya uang, kekuasaan dan hal-hal semu lainnya. Bukan juga tentang hokum, hak, kewajiban dan filosofi. Yang Q tau hidup adalah permainan. Permainan yang penuh dengan paksaan. Mau tidak mau siapapun harus memainkan permainannya masing-masing. Satu nyawa ntuk satu peran.
Kadang Q tertawa saat permainan itu terasa menyedihkan. Hidup memainkan fungsinya dengan indah tanpa basa-basi. Seolah tak memahami apa yang Q mau dan inginkan, segalanya terjadi begitu saja.
Hidup membuatku memiliki apa yang tak kusuka dan menginginkan apa yang tak bisa kumiliki. Seperti sedia paying saat tak hujan atau tak punya kapal saat kebanjiran. Sungguh menyedihkan mengalami hal lucu tapi tak diharapkan.
Tak heran begitu banyak orang bunuh diri tanpa peduli lagi dengan permainan hidup. Mungkin mereka lelah karena tak lagi bisa menjalankan pion secerdik dulu. Tapi disisi lain Q yakin mereka kini lega. Akhirnya mereka bisa keluar dari onggokan daging bernama tubuh. Karena tubuh hanya pion
Banyak juga orang menghias pion mereka masing-masing. Mempercantik tubuh. Operasi plastic, suntik sislicon atau memasang susuk. Tujuannya Cuma 1, mengendalikan hidupnya dan hidup orang lain. Berusaha menjadi Tuhan untuk orang lain. Sungguh ironis, tubuh Cuma sekadar fasilitas, buat apa direbutkan?
Q kadang berfikir tentang permainan hidupku sendiri. Semuanya berjalan biasa-biasa saja walau banyak yang tak bisa kudapatkan. Q bisa menemukan semuanya dengan mudah sekaligus kehilangan dengan cepat.
Singkatnya hidupku punya selera humor yang cukup tinggi. Aku adalah petualang yang merindukan rumah, aku pemberontak yang penuh aturan, aku apatis yang mudah bicara, aku adalah putih yang selalu menghitam.
Pada dasarnya Q tak mengerti tentang hidup. Semua ini cukup untuk menujukkan pertanyaan dari jawabanQ, walau sebenarnya ini Cuma sebatas khayalan.
- Reesh-Ma
- Banyak orang komentar tentang siapa saya, bagaimana, dan kenapa saya. Tapi saya yakin hanya ada 1 penjelasan rasional tentang semua itu. Tergantung bagaimana semua orang menginterpretasi diri saya. Yang jelas, siapa saya, bagaimana dan kenapa, adalah saya yang mengetahui semuanya.
-
-
JANJI12 years ago
-
Sahabat Sejati14 years ago
-
-
About Me
Greeting For me!!!
Kunjungi juga Ney...
Jam Dinding
Wednesday, February 18, 2009
Friday, February 6, 2009
Akhir-akhir ney Q sebel. Sebee...l banget! Q sebel sekaligus heran dan gak habis pikir sama kritikus-kritikus sok tau di Indonesia. Ini bukan soal kritikus politik, kritikus masakan, atao kritikus ekonomi. Klo kritikus jeis ini, Q percaya mereka emang kompeten di bidangnya masing-masing.
Yang lagi Q bahas adalah kritikus-kritikus musik karbitan yang modalnya cuman mantengin TV dan dengerin radio. Orang-orang yang dengan seenaknya mencemooh, mengkritik, sok tau, apatis, memandang sebelah mata dan no, no never pada musikaitas Indonesia.
Sebelumnya Q minta maaf sama orang-orang sekitarQ yang ngerasa gimana... gitu dengan tuisan ney. Tapi jangan ge-er dulu... tulisan ney bukan cuma buat kalian. Ini buat kritikus-kritikus karbitan yang selalu ngerasa telinganya paling oke atau mulutnya paling bener.
Orang-orang ini banyak yang bilang musik Indonesia sekarang GeJe alias Gak Jelas. Katanya musik Indo monoton, mendayu-dayu, suka meniru, gak ada estetikanya, suaranya cempreng deelel. Masih lebih bagus musik barat, tambahnya! Selalu yang diagung-agungkan adalah MCR, PATD, Rihanna, Muse, lily Eden, pokoknya yang gitu-gitu lah!
Kok gak bangga sih sama produk sendiri? Q tau klo musik-musik barat emang keren banget. Nggak munafik juga klo q punya band favorit dari barat. Dibandingkan sama musik Indo, musik barat setingkat lebih hebat. Tapi bukan berarti musik Indo bener-bener terpuruk... ruk... ruk...ruk...! Ada juga kok musisi asli Indo yang go internasional, contoh J-rocks yang bisa rekaman di studionya the Beatles, Anggun yang albumnya mendunia, atau Inul yang bisa show di Jepang. Keren juga kan?
Ironisnyakebanyakan dari kritikus-kritikus karbitan ini justru orang-orang yang nggak bisa maen musik bahkan nggak tau musik sama sekali. Seperti yang Q bilang tadi, modalnya cuma acara-acara musik di TV atau Radio. Klo pun dia suka, paling pol modal mp3 bajakan yang bisa didownload di internet atau transfer lewat bluetooth. Gak punya malu banget sih! udah mengkritik seenak udel, masih aja ngebajak!
Pernah nggak sih orang-orang ini berfikir, nggak gampang bikin secarik lagu. Mungkin aja musisi-musisi itu samapai 7 hari gak makan, gak tidur, gak mandi cuma untuk menciptakan lagu yang merdu dan bisa diteri,a ,asyarakat. Atau juga ada yang harus mandi kembang 7 rupa selama 7 hari 7 malam, semedi di goa, puasa 40 hari dan rela putus dari pacar supaya dapet feel patah hati yang pas. Kerja keras seperti ini dijabani demi lagu yang panjangnya nggak sampai 5 menit. Tapi kemdian orang-orang ini ngomong ini-itu tanpa mau mikir dia sendiri belum tentu bisa bikin lagu.
Q ngerasaain sendiri susahnya bikin lagu yang panjangnya cuma 1 kalimat aja. Setiap kali Q pegang gitar, inspirasi-inspirasi itu langsung hilang, pas lagi nggak pegang gitar, ide-ide selalu ada. Begitu terus! Q terus usaha mencari nada-nada buat laguQ, sampai setelah lagu itu jadi dan Q dengerin didepan orang lain, orang-orang itu justru teriak-teriak klo laguQ gak je;as. Ya... mungkin emang nggak enak, tapi perhatikan juga dong perasaan orang lain!
Yang jelas Q ngerasa gemeees banget denga orang-orang kayak gini. NATO banget! apa ya sebutannya... "sincilia mother fucker" menurut Q! orang-orang gini gak cuma sok tau tentang musik tapi juga film, fashion, dan tentang hukum. Padahal mereka orang Indo tapi benci karya Indo. Pindah aja ke Barat, mampu gak? Gak mampu aja banyak bacot!
Tuesday, February 3, 2009
TKI juga pahlawan.
Tanggal 10 November mendatang, bangsa Indonesia akan kembali merayakan hari Pahlawan. Sebuah hari yang dipersembahkan khusus kepada jasa-jasa para pahlawan. Hari bersejarah yang dimulai sejak tahun 1945 menjadi sebuah patokan untuk kembali mengenang jasa-jasa pahlawan nasional dalam membela Negara Indonesia tercinta ini.
Mengacu pada peristiwa sejarah tanggal 10 November 1945, kisah kepahlawanan identik dengan tindakan heroik dan nasionalisme. Sejak saat itu rasa nasionalisme mulai didengung-dengungkan pada setiap bangsa Indonesia. Nasionalisme yang merupakan paham kebangsaan, atau paham dimana kepentingan bangsa diutamakan dari kepentingan pribadi maupun golongan pada akhirnya menjadi tolak ukur pantas tidaknya seseorang dianggap sebagai pahlawan.
Semakin berkembangnya zaman, maka tolak ukur kepahlawanan tidak hanya terbatas pada rasa nasionalisme saja. Walaupun paham itu tetap mendominasi namun, bangsa Indonesia kini cukup cerdas untuk mendefinisikan hakikat pahlawan. Pahhlawan di jaman modern ini bergeser makna menjadi orang yang memiliki jasa atau manfaat bagi orang lain. Seseorang berhak menyandang gelar atau sebutan pahlawan jika dia mampu mengorbankan dirinya demi kepentingan bersama.
Dengan definisi demikian maka sudah barang tentu semakin banyak ‘jenis-jenis’ pahlawan yang bermunculan. Sebagai contoh gelar ‘Pahlawan tanpa tanda jasa’ yang diberikan pada guru. Tak terkecuali pula gelar ‘Pahlawan Devisa’ yang diberikan pada TKI-TKI kita di luar negeri.
Gelar pahlawan devisa itu juga bukan secara Cuma-Cuma diberikan pada TKI-TKI tersebut. Kita semua tahu betapa besar peranan TKI tersebut dalam membantu perekonomian Negara kita. Walaupun sebagian besar dari para TKI itu tidak berangkat atas dasar rasa nasionalisme, namun dengan kerja keras mereka di luar negeri telah bermanfaat bagi orang lain. Setidaknya bagi keluarga mereka di Indonesia, karena sebagian besar dari TKI itu adalah masyarakat kalangan bawah.
TKI rawan tindak kriminal
Setelah peran besar yang diberikan TKI untuk Indonesia, maka kesempatan untuk memperbaiki ekonomi di luar negeri semakin terbuka lebar. Pada akhirnya terjadi tren bagi masyarakat menengah kebawah menjadi TKI dan berbondong-bondong pergi keluar negeri. Kenyataan demikian jelas menguntungkan perekonomian bangsa Indonesia. Hasil yang dicapai oleh para TKI itu menjadi pendapatan per kapita Indonesia, dan tentunya meningkatkan tingkat kemakmuran keluarganya.
Sayangnya jasa yang diberikan oleh para TKI ini tidak diimbangi dengan balas jasa yang sepadan pula. Maraknya warga Indonesia yang berbondong-bondong ke luar negeri menjadi lahan criminal bagi orang-orang yang tak bertanggung jawab. Yang paling sering terjadi dengan TKI kita adalah Trafficking (perdagangan manusia) dan penganiayaan. Modus dalam pelaksanaannya relatif sama, sebagian besar kejadian terjadi di satu Negara.
Pada dasarnya Indnesia sudah memiliki beberapa peraturan yang mengatur tentang perlindungan TKI di luar negeri, contoh UU Hubungan Luar Negeri No. 37 tahun 1999, Pemerintah berkewajiban untuk melindungi seluruh WNI di luar negeri termasuk TKI, dimanapun mereka berada. Tapi entah karena aturan ini tidak efektif atau sistem di Indonesia yang kurang tegas, yang jelas trafficking dan penganiayaan itu tetap terjadi. Boro-boro menangani warga negaranya di rumah orang, menangani warga negaranya di rumah sendiri saja masih carut-marut.
“Jual-beli Pahlawan”
Melihat besarnya jasa yang diberikan TKI itu pada Indonesia, sudah semestinya Indonesia memberikan penghargaan tinggi pada mereka. Tidak perlu membangun monument megah yang bisa dilihat semua orang, cukup dengan jaminan perlindungan. Dengan kenyataan seperti ini, Indonesia terkesan sangat tidak peduli dengan nasib TKI-TKI-nya.
Indonesia seperti sedang berjualan pahlawan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Coba bayangkan, sebelum berangkat, TKI ini menyetor sejumlah uang untuk administrasi pada departemen keimigrasian. Setelah bekerja, TKI itu mendapatkan penghasilah yang dihitung sebagai pendapat per kapita Indonesia. Tapi giliran TKI itu kena masalah, Indonesia selalu kalah diplomasi.
Walaupun sistem ‘jual-beli’ disini berbeda dengan trafficking tapi yang terjadi ini sama seperti kegiatan jual beli, setelah pembeli menyetor uang maka tanggung jawab barang ada pada pembeli. Walaupun banyak masalah yang menimpa TKI, tapi Indonesia tetap sistem yang sama untuk ‘menjual’ TKI-TKI itu.
Ada pepatah bilang, “bangsa yang besar adalah bangsa yang mengahargai jasa pahlawannya.” Selama ini Indonesia hanya berusaha menghargai jasa-jasa pahlawan Nasional yang telah memerdekakan bangsa ini, tapi Indonesia selalu melupakan sosok pahlawan yang lain, contohnya ya TKI ini. Jadi sebenarnya Indonesia ini bangsa yang besar atau bangsa yang ‘tidak akan pernah besar’?





